Dua Murid Koding Next Masuk Top 10 Dunia di Kompetisi Robotika Internasional
- Aprilia Putri Sandora
- 15 jam yang lalu
- 3 menit membaca
Di tengah persaingan lebih dari 400 peserta dari 22 negara dan wilayah, dua pelajar Indonesia berhasil mencuri perhatian dunia. Mereka adalah Dylan Viady DengĀ dari Koding Next Samarinda dan Margareta Darmais TehjaĀ dari Koding Next Medan. Keduanya sukses meraih peringkat ketujuh dalam 2026 Robotics AI Innovation Challenge, sebuah kompetisi internasional yang mempertemukan talenta muda terbaik di bidang coding, robotika, dan artificial intelligence.
Prestasi ini bukan hanya membanggakan bagi mereka secara pribadi, tetapi juga menjadi kabar baik bagi dunia pendidikan teknologi di Indonesia. Di panggung yang diisi peserta dari berbagai negara, Dylan dan Margareta membuktikan bahwa pelajar Indonesia mampu bersaing dan tampil sebagai salah satu yang terbaik.
Perjalanan Dua Murid Koding Next di Kompetisi Robotika Internasional

Pada Juli 2026, delapan murid Koding Next berangkat ke Beijing untuk mewakili Indonesia dalam Robotics AI Innovation Challenge. Bagi Dylan dan Margareta, perjalanan ini menjadi pengalaman yang berbeda dari kompetisi yang pernah mereka ikuti sebelumnya. Mereka tidak hanya datang untuk bertanding, tetapi juga belajar bersama peserta dari berbagai negara dengan latar belakang budaya dan pengalaman yang berbeda.
Sebelum kompetisi dimulai, seluruh peserta mengikuti sesi orientasi untuk mempelajari tantangan yang akan dihadapi sekaligus menguji robot yang akan digunakan selama perlombaan. Menariknya, setiap tim terdiri dari dua peserta asal Tiongkok dan dua peserta internasional. Artinya, mereka harus membangun kerja sama dengan orang yang baru dikenal dalam waktu yang singkat. Di sinilah kemampuan komunikasi, adaptasi, dan kolaborasi menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis.
Dua Hari yang Penuh Tantangan

Kompetisi berlangsung selama dua hari dengan dua tantangan utama, yaitu Ice Summit ShowdownĀ dan Space Maze. Setiap tantangan menguji kemampuan peserta dalam menyusun logika pemrograman, mengendalikan robot, dan menyelesaikan misi dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Namun seperti kebanyakan kompetisi teknologi, tidak semua berjalan sesuai rencana.
Ada kode yang harus diperbaiki di menit terakhir. Ada robot yang tidak bergerak seperti yang diharapkan. Ada strategi yang terpaksa diubah setelah melihat kondisi di arena pertandingan. Di sela waktu yang terbatas, Dylan dan Margareta bersama rekan satu tim terus melakukan debugging, berdiskusi, lalu mencoba kembali hingga menemukan solusi terbaik. Momen seperti inilah yang sering tidak terlihat oleh penonton. Padahal, proses tersebut menjadi bagian yang paling menentukan dalam sebuah kompetisi robotika.
Berhasil Masuk Jajaran Top 10 Dunia

Kerja keras mereka akhirnya membuahkan hasil. Dylan dan Margareta berhasil mengumpulkan 190 dari total 210 poin, sekaligus mengamankan posisi peringkat ketujuh duniaĀ dalam Robotics AI Innovation Challenge 2026. Hasil tersebut menempatkan mereka di jajaran Top 10Ā dari lebih dari 400 peserta yang mengikuti kompetisi. Pencapaian ini menjadi salah satu prestasi internasional yang membanggakan bagi Indonesia. Tidak hanya karena posisi yang diraih, tetapi juga karena berhasil bersaing dengan peserta terbaik dari berbagai negara yang dikenal memiliki ekosistem pendidikan teknologi yang sangat maju. Bagi Dylan dan Margareta, hasil tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, latihan, dan keberanian menghadapi tantangan mampu membawa mereka melangkah lebih jauh.
Melanjutkan Perjalanan Belajar di Kancah Internasional
Setelah kompetisi berakhir, perjalanan mereka di Tiongkok masih berlanjut. Bersama rombongan Koding Next, mereka mengunjungi Liaoning untuk mengikuti berbagai kegiatan edukatif, mulai dari mengunjungi universitas hingga melihat langsung pusat inovasi yang menjadi bagian dari perkembangan teknologi di negara tersebut. Mereka juga berkesempatan bertemu dan bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai negara. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang tidak bisa didapatkan hanya dari ruang kelas. Mereka belajar bagaimana berkolaborasi dengan orang dari budaya yang berbeda, menghadapi tantangan baru, dan melihat secara langsung bagaimana teknologi terus berkembang di berbagai belahan dunia.
Prestasi yang Lahir dari Proses Belajar

Keberhasilan Dylan dan Margareta tentu tidak terjadi dalam semalam. Di balik pencapaian tersebut ada proses belajar yang panjang, latihan yang konsisten, serta kemauan untuk terus mencoba ketika menghadapi kesalahan. Di Koding Next, murid tidak hanya belajar coding atau robotika sebagai keterampilan teknis. Mereka juga dibiasakan untuk berpikir logis, menyelesaikan masalah, bekerja sama dalam tim, dan berani mencari solusi ketika menghadapi tantangan. Pendekatan inilah yang membantu mereka tidak hanya siap menghadapi kompetisi, tetapi juga siap menghadapi dunia yang semakin dipenuhi teknologi. Prestasi di Beijing menjadi salah satu contoh bagaimana proses belajar yang tepat dapat membuka kesempatan bagi pelajar Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka di tingkat internasional.
Dampak Positif bagi Generasi Muda Indonesia
Perjalanan Dylan Viady Deng dan Margareta Darmais Tehja membuktikan bahwa mimpi untuk bersaing di panggung dunia bukan sesuatu yang mustahil. Berawal dari ketertarikan pada coding dan robotika, mereka terus belajar, berlatih, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang datang hingga akhirnya berhasil membawa nama Indonesia masuk dalam jajaran peserta terbaik dunia. Semoga pencapaian mereka dapat menginspirasi lebih banyak anak Indonesia untuk berani mengejar minat mereka di bidang teknologi.
Bagi orang tua, kisah ini juga menjadi pengingat bahwa potensi anak dapat berkembang ketika mereka mendapatkan lingkungan belajar yang tepat, dukungan yang konsisten, dan kesempatan untuk terus mencoba. Jika anak Anda memiliki ketertarikan pada coding, robotika, atau artificial intelligence, perjalanan mereka bisa dimulai hari ini. Koding Next membuka kesempatan bagi setiap anak untuk mengeksplorasi dunia teknologi melalui Free Trial Class. Siapa tahu, beberapa tahun dari sekarang, giliran mereka yang membawa nama Indonesia ke panggung dunia.




Komentar